headerphoto

MEMOTRET CARA LAZ YAUMIL “MENGHAJAR RETENIR”

Jum`at, 11 Juni 2010 13:32:30 - oleh : wagiran

Ekonomi menjadi masalah darurat bagi kaum dhuafa. Melihat semakin bertambahnya angka kemiskinan di Indonesia, BMT MITRA AMANAH meluncurkan lembaga keuangan mikro syariah untuk memberdayakan mustahik. Dengan nama USAHA pemberdayaan mikro Mandiri (UPMI), diharapkan lembaga keuangan ini dapat memfokuskan diri pada pembiayaan sektor usaha mikro kecil yang belum terlayani oleh bank.


Usaha Pemberdayaan Mikro Mandiri (UPMI), salah satu program dari Indonesia Makmur BMT serta bagian dari program pendayagunaan ZIS dari LAZ YAUMIL untuk meningkatkan kesejahteraan kaum fakir miskin. Dengan tujuan untuk membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat lapisan bawah dalam bidang ekonomi, program layanan ini diberikan dalam bentuk pinjaman qardhul hasan (pinjaman tanpa bunga ataupun bagi hasil) kepada masyarakat agar terlepas dari jeratan rentenir.


Sumber dana untuk qardhul hasan bersumber dari dana zakat yang dikelola BMT. Di samping itu, UPMI  juga mengeluarkan produk komersial syariah berupa simpanan dan pembiayaan. "Rentenir menjadi hantu yang sangat menakutkan bagi para pedagang. Tapi dalam kondisi terjepit, pedagang sering kali menggunakan jasa rentenir untuk meminjam uang agar usaha mereka bisa tetap berjalan," ungkap Wagiran, Manajer BMT MITRA AMANAH.


Menurut Mujiburrohman, selama ini BMT  membidik para pengguna jasa rentenir agar mereka tidak menggunakan rentenir lagi dalam meminjamkan uang. Alasan BMT  membidik segmen ini karena para pedagang pasar, Pedagang Kaki Lima (PKL), pedagang keliling dan pewarung permukiman menjadi segmen market utama para rentenir. Mereka selama ini lebih banyak meminjam ke rentenir dengan bunga tinggi.

Sejak didirikan  setahun lalu 26 Mei 2009 , sudah lebih dari 225 usaha terbantu lewat pelayanan Usaha Pemberdayaan Mikro Mandiri (UPMI) BMT. "Dalam tiga bulan ini kami baru mengucurkan dana Rp 331.700.000 untuk membantu 225 orang yang sedang menjalankan usahanya. Target untuk tahun ini kami membutuhkan Rp 1 miliar untuk memberikan pembiayaan kepada 500 UMK di wilayah Kot Bontang " jelas Wagiran.

Peluang membantu usaha menengah ke bawah ini terbuka lebar. Dari 4 Pasar dengan kurang lebih ada 3 ribu pedagang di Kota BOntang, terdapat 35 koperasi pasar. Ironisnya, dari 20 koperasi pasar tersebut, yang masih dalam kondisi sehat hanya 25 persen, sedangkan 25 persen sudah sekarat dan 50 persen sudah mati.

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita" Lainnya